INDONESIA MOBILE OBSERVATORY

Apa yang terjadi kalau ada sebuah mobil membawa seperangkat teleskop dilengkapi sound system mengunjungi sekolah-sekolah ? Wah, tentu akan sangat mengasyikkan! Kalau kunjungan mobil berteleskop itu dilakukan malam hari kita bisa mengintip bulan, bintang, atau planet. Kalau kunjungannya siang hari, dengan kaca mata khusus yang disediakan, kita bisa melihat Matahari. Tapi ingat, kita TIDAK BOLEH melihat Matahari secara langsung tanpa kaca mata khusus. Sangat berbahaya melihat Matahari tanpa pelindung mata sebab sinarnya yang sangat tajam bisa merusak mata kita. Selain teleskop mobil ini juga membawa monitor besar sehingga apa yang dilihat melalui teleskop bisa ditampilkan di layar monitor.

Menarik sekali bukan ? Mobil yang membawa teleskop itu namanya Indonesia Mobile Observatory, disingkat menjadi IMO. Ini adalah hasil karya kretaif Hendro Setyanto, alumni astronomi ITB yang bekerja di Observatorium Bosscha, Lembang. Dengan mobil itu Hendro bisa bergerak leluasa menjumpai siapa saja yang ingin berkenalan dengan dunia astronomi. Para pelajar sekolah dan berbagai komunitas di daerah akan sangat diuntungkan dengan keberadaan IMO.

Rekor MURI

Menurut Hendro Setyanto, ide membuat observatorium berjalan sudah muncul bertahun-tahun yang lalu. Setelah melalui proses yang panjang mulai dari mengumpulkan informasi mengenai observatorium berjalan dan mendesain perangkat yang sesuai di mobil, akhirnya IMO pun siap beroperasi sejak bulan Mei 2009. Tentu saja kehadiran IMO semakin memudahkan masyarakat mendapatkan pengetahuan mengenai astronomi. Selain informasi yang berasal dari kunjungan ke Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta, media cetak dan televisi (yang sangat jarang dan dalam porsi sangat sedikit), internet, kini ada IMO. Bahkan IMO akan datang mengunjungi kita.*** (isan)

Astrofilateli

IYA 2009 Dalam Perangko

PT Pos Indonesia ikut meramaikan Internasional Year of Astronomy 2009 dengan menerbitkan seri perangko IYA 2009. Ternyata perhatian PT Pos Indonesia terhadap dunia dirgantara Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1958. Seri perangko IYA 2009 adalah seri ke 21 yang diterbitkan oleh PT Pos Indonesia dalam kategori Astrofilateli, yaitu yang berkaitan dengan kedirgantaraan Indonesia. Seri pertama 1958 tentang Tahun Geofisika Internasional. Selanjutnya antara lain ada seri Tata Surya, seri Satelit Palapa, seri Gerhana Matahari Total, dll. *** (isan)

Talk Show 2012

Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB mengadakan Talk Show mengenai isu kiamat tahun 2012, Minggu 14 Juni 2009 di Aula Timur ITB. Isu ini merebak di internet berkaitan dengan berakhirnya periode sistem kalender bangsa Maya pada 21 Desember 2012. Nara sumber yang diundang hadir adalah Dr. Budi Dermawan dari Program Studi Astronomi ITB, Clara Yono Yatini MSc. dari LAPAN, dan Drs. Widya Sawitar dari Planetarium Jakarta. Para pembicara mengatakan dari sudut pandang astronomi tidak ada yang perlu dicemaskan pada tahun 2012. Legaa...*** (isan)


Komunitas langitselatan mengadakan pelatihan bagi para guru yang tergabung dalam Forum Pembina Astronomi (FPA) Bandung, Jumat 19 Juni 2009, di SMAN 4 Bandung.

Ferry M. Simatupang MSc dan Aldino A. Baskoro MSc. menyampaikan materi tentang pergerakan benda langit, koordinat langit, dan pengenalan teleskop.

Semangat para guru anggota FPA terlihat jelas ketika mengikuti satu demi satu materi yang disampaikan oleh pembawa makalah. Sedikitnya 20 guru dari berbagai SMA di Bandung mengikuti pelatihan yang berlangusng dari jam 2 siang dan berakhir pada pukul 20.00. Pada akhir sesi pelatihan dilakukan prkatek pengamatan obyek langit di halaman dalam SMAN 4 Bandung. Obyek yang diamati diantaranya adalah planet Saturnus dan bintang Acturus. ***

Kunjungi situs langitselatan www.langitselatan.com

pelatihan Astronomi - Ferry M. Simatupang
Pelatihan Astronomi - Aldino A. Baskoro
Pelatihan astronomi
Pelatihan Astronomi - penutupan Pelatihan Astronomi - mengamat bintang

teropong refraktor ganda Zeiss

OBSERVATORIUM BOSSCHA

Pada 1920 beberapa orang Belanda mendirikan Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda (Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging - NISV). Rapat pertama perhimpunan ini memutuskan untuk mendirikan sebuah teropong yang akan mengamati langit bagian selatan Bumi. Ide itu mendapat dukungan luar biasa dari seorang pengusaha kebun teh yang juga sangat perduli kepada ilmu pengetahuan bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Ia lah yang memberikan bantuan pembelian teropong refraktor ganda Carl Zeiss dari Jerman.

Setelah melalui sejumlah penelitian akhirnya NISV memutuskan mendirikan sebuah observatorium di Lembang, 15 kilometer sebelah utara Bandung . Pembangunan observatorium dimulai pada tahun 1922 dan pada tahun 1928 teropong refraktor ganda dari Jerman tiba di Lembang, dan sejak tahun itu pula observatorium ketiga terbesar di belahan langit selatan ketika itu mulai beroperasi. Sebagai direktur pertama observatorium waktu itu adalah Dr. J. Voute. Untuk memberi penghargaan kepada Karel Albert Rudolf Bosscha karena kontribusinya yang luar biasa itu, namanya diabadikan sebagai nama observatorium tersebut.

Kini Observatorium Bosscha berada dalam pengelolaan ITB dan menjadi bagian sangat penting dalam riset astronomi di Indonesia. Banyak sudah publikasi ilmiah internasional dalam bidang bintang ganda, struktur galaksi, dan bintang varibael, lahir dari para peneliti Indonesia di Observatorium Bosscha.

Sementara itu di hari-hari tertentu antara bulan April – Okober Observatorium Bosscha dibuka untuk umum. Masyarakat yang ingin mengenal astronomi dan fasilitas observatorium dapat berkunjung pada hari-hari tersebut. Informasi lebih lanjut hubungi telpon: 022 – 2786001. ****

Kunjungi situs Observatorium Bosscha: http://bosscha.itb.ac.id

Kubah teropong refraktor ganda Zeiss
Foto udara kubah teropong ganda Zeiss jaman dulu

Majalah Astronomi - 2009

Majalah Astronomi diterbitkan dalam edisi cetak dan versi online.

Untuk berlangganan edisi cetak dan informasi lainnya, hubungi kamii Majalah Astronomi